Dispar Kutim Siapkan Penarikan Retribusi Wisata, Mulai Berkontribusi ke PAD pada Akhir 2025

tajukmedia.id

Kepala Dispar Kutim Nurullah.
Kepala Dispar Kutim Nurullah.

SANGATTA, Tajukmedia.id – Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Timur (Kutim) memastikan mulai menarik retribusi objek wisata pada akhir 2025. Kebijakan ini menjadi langkah awal bagi Dispar untuk menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) setelah sekian lama belum memiliki dasar hukum penarikan biaya masuk. Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pajak dan Retribusi Daerah kini menjadi payung hukum utama untuk memulai mekanisme tersebut.

Selama ini, Dispar tidak dapat memungut biaya di pintu masuk destinasi karena ketiadaan aturan yang mengatur teknis retribusi. Dengan Perda baru, Dispar langsung menyiapkan pencetakan tiket masuk, baik tiket pengunjung maupun tiket kendaraan, yang nantinya memiliki struktur tarif berbeda sesuai kebutuhan lapangan. “Di akhir tahun 2025 ini, Dinas Pariwisata sudah bisa berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah,” ujar Kepala Dispar Kutim, Nurullah, dikonfirmasi Senin (24/11/2025).

Potensi pendapatan dari sektor wisata dinilai besar mengingat tingginya angka kunjungan. Data 2024 mencatat 430 ribu wisatawan nusantara datang ke Kutim, menjadikan sektor ini salah satu peluang penghasil PAD yang menjanjikan jika dikelola optimal. Destinasi favorit seperti Pantai Jepu-jepu, Pantai Marang, Pulau Miang, dan Mentoko masih menjadi magnet utama. “Tahun lalu belum ada Perdanya sehingga belum dapat dipungut,” kata Nurullah.

Dengan adanya regulasi baru, Dispar meyakini jumlah wisatawan akan terus meningkat karena pembenahan destinasi juga dilakukan paralel. Situasi tersebut membuka ruang lebih besar bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pemasukan tanpa membebani masyarakat secara berlebihan. “Untuk tahun depan, kami yakin jumlah wisatawan bisa naik lagi,” ucap Nurullah.

Meski demikian, Dispar belum bisa menetapkan target pasti berapa besar PAD yang akan diperoleh dari retribusi wisata. Variasi tarif antarobjek wisata serta fluktuasi jumlah kunjungan menjadi faktor yang membuat proyeksi masih sulit dihitung secara akurat. “Jadi soal target berapa pemasukan ke PAD, belum bisa kami prediksi,” pungkasnya. (advertorial/ED1)

Bagikan:

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer